Kisah petani miskin

on 9:43 AM

Pada tahun 1850-an, di desa Blackbeaver, kira-kira 150 km dari London, hiduplah seorang petani miskin paruh baya yang tidak berpendidikan bernama Jack Holdrige. Dia berkeinginan kuat untuk memperbaiki keadaan ekonominya. Tapi apa daya, ladang yang dimilikinya hanya mampu menghidupi keluarganya yang berjumlah 4 orang.

Tahun demi tahun ladang tsb diolahnya, tetapi kehidupan semakin sulit, ketika anak-anaknya beranjak dewasa yang tentu saja kebutuhan hidup mereka semakin banyak.
Saya harus keluar dari kepapaan ini” demikian tekadnya.
Sudah lima tahun berlalu sejak niat itu muncul, namun hingga sekarang tidak ada tanda-tanda perbaikan nasib.

Setiap malam dia membayangkan dirinya sebagai orang kaya. Demikian juga ketika sedang mencangkul diladang. Ada kenikmatan yang dirasakannya dengan imaginasi menjadi hartawan.
Jup…jup….jup…cangkulnya membalik tanah. Keringat bercucuran. Begitulah keadaannya terus dan hanya berhenti kalau musim dingin sudah tiba. Tenaganya tidak sekuat dulu lagi ketika masih muda. Keriput diwajahnya menyiratkan dengan jelas kepahitan hidup.

Suatu malam dia bermimpi. Dia didatangi seorang tua yang sudah putih rambut dan jenggotnya dan berkata : Kalau kau menginginkan harta, pergilah ke jembatan baru di London.
Dia tidak menggubris mimpi tsb dan terus menghayunkan cangkul diladang.
Enam bulan kemudian mimpi yang sama terulang. "Itu hanya mimpi belaka yang terjadi karena pikiranku yang berangan-angan menjadi kaya", pikirnya dalam hati.
Jup, jup, jup, cangkulnya memacul tanah.
Tetapi enam bulan kemudian mimpi itu datang lagi. Sekarang dia mulai memikirkannya.
London begitu luas, dimana jembatan baru itu terletak?” dia bertanya pada dirinya sendiri. Dia bertanya kepada tetangga, tetapi mereka juga tidak tahu dimana letak jembatan baru. Akhirnya diputuskan pergi ke kota itu dan mencarinya sendiri.

Dengan wagon yang ditarik oleh dua ekor kuda, kendaraan angkutan umum pada masa itu, dia tiba di ibukota Inggris. Dia membayar 55 sen kepada sais wagon, dan pergi berjalan kaki mencari jembatan baru. Buntalan yang dipapa pada punggungnya berisi roti kering untuk perbekalan seminggu. Kecuali itu, dia hanya mempunyai 55 penny lagi untuk ongkos pulang kedesanya.
Dengan mudah dia menemukan tujuan karena hampir semua penduduk kota mengetahui letak jembatan tersebut.

Sebenarnya jembatan itu sudah tua, tetapi tetap dinamakan Jembatan Baru. Dia meneliti seluruh bagian konstruksi jembatan tsb dengan harapan akan menemukan harta karun yang tersembunyi. Setiap sudut pada bagian pondasi diperiksa dengan teliti, bahkan semal yang tumbuh panjang dibersihkannya berharap sejumlah uang ada terselip pada kerimbunannya.
Sudah tiga hari menekuni pencariannya tetapi tidak menemukan apa-apa. Jika malam tiba, dia tidur dikolong jembatan tsb.

Aku percaya pada mimpi dan bigini jadinya. Betapa bodohnya. "Semestinya aku mendengar nasehat istriku" dia menyesali tindakannya. Dia berniat akan pulang keesokan harinya. Dia membaringkan tubuhnya yang penat dan tertidur.
Tengah malam, suara ribut dan gaduh membuatnya terbangun. Maling, maling, maling, tangkap!!!’’
Dengan sigap dia naik keatas jembatan dan samar-samar dalam kegelapan seseorang berlari tidak jauh darinya, disusul oleh banyak orang dari belakang.
Si petani turut berpartisipasi mengejar. Jaraknya paling dekat dengan maling yang sedang langkah seribu. Sang maling hampir dapat dibekuknya. Namun sayang, kakinya tersandung dan jatuh.
Penduduk setempat yang ramai-ramai mengejar maling itu segera tiba dan menangkapnya. Ini dia malingnya, akhirnya tertangkap!!!” mereka berteriak.
Petani itu memprotes dan menerangkan duduk perkaranya, tapi tak seorang pun percaya. Dia diseret ke kantor polisi dan dimasukkan kedalam ruang tahanan, mendekam disana hingga seminggu baru kemudian sidang dimulai.

Kepada hakim, Jack Holdridge membantah bahwa dia adalah maling. Dipaparkannya seluruh rentetan kejadian yang  membawanya ke Jembatan Baru, hingga ditangkap oleh penduduk.
Jadi kau percaya kepada mimpi? sergah hakim. Saya juga bermimpi berkali-kali didatangi seseorang bahwa kalau saya ingin kaya raya, saya harus pergi ke desa Blackbeaver, mencari sebuah rumah yang agak terpencil disana. Dibelakang rumah itu ada sebuah sumur tua yang sudah ditimbun. Didasar sumur itu ada harta karun yang besar. Tapi saya tidak bodoh untuk menuruti mimpi tambah sang hakim.
Melihat keluguan si petani, hakim tsb membebaskan Jack Hodridge. Masa penahanan satu minggu sudah cukup sebagai hukumannya.

Dengan putus asa dan sedih hati petani miskin tsb pulang kedesanya. Istrinya menyambut dengan wajah murung. Anak-anaknya juga demikian. Dia mengaku betapa tolol dirinya telah mempercayai mimpi. Ternyata London hanya menambah penderitaan.
Jup, jup, jup, dia kembali mencangkul tanah. Sebulan sudah berlalu sejak dia kembali di desa. Ritme kehidupan sebagai petani berlanjut. Jup, jup, jup.

Suatu hari pada siang yang terik dia beristirahat dibawah pohon apel yang rindang dibelakang rumahnya. Keringat yang mengucur disekanya.
Sinar mata yang kosong menatap lahan pertaniannya yang tidak luas, warisan dari orang-tuanya. Kemudian pandangannya berhenti pada dinding bundar setinggi satu meter dengan diameter kira-kira 1,5 meter. Bekas sumur yang sudah ditimbun sejak masa orang-tuanya masih hidup.

Seolah-olah ada yang membisikkan, dia teringat akan cemohan hakim kepadanya yang percaya pada mimpi : Saya juga bermimpi berkali-kali didatangi seseorang bahwa kalau saya ingin kaya raya, saya harus pergi ke desa Blackbeaver, mencari sebuah rumah yang agak terpencil disana. Dibelakang rumah itu ada sebuah sumur tua yang sudah ditimbun. Didasar sumur itu ada harta karun yang besar. Tapi saya tidak bodoh untuk menuruti mimpi.
Sejenak dia tertegun, Benarkah…….ini sumur itu???’’
Dia ambil cangkul dan sekop untuk menggali timbunan tanah. Dengan bantuan dua orang anaknya penggalian berlangsung dengan cepat. Pada kedalaman 15 meter sekop tertumbuk pada benda keras. Penggalian diteruskan sedikit lagi. Ada sebuah peti logam berukuran 50cm x 30cm x 30 cm. Segera ditarik keatas.
Dengan sebuah linggis dan palu, peti itu segera terbuka dan………lihat, peti tsb berisi penuh logam mulia, intan, dan berlian.
Jack Holdrige sekeluarga segera pindah London dan hidup makmur disana.

***

Pesan moral :
"Dalam kehidupan ini ada banyak fenomena yang kita masing-masing tidak pahami."



1 comments:

Comment by Siska Noviyanti on February 8, 2017 at 10:47 AM

sangat menarik dan membawa pesan untuk kehidupan..kunjungi juga http://www.ahlibeton.co.id/2015/09/cat-lantai-epoxy.html tips menggunakan epoxy lantai atau cat lantai

 

Post a Comment